Ketegangan China Vs Amerika Serikat di Laut China Selatan semakin meruncing. Setelah kerap melakukan latihan bersama dengan negara lain di kawasan ini, Amerika Serikat terus melakukan berbagai macam manuver. Yang terbaru adalah kunjungan Kamala Haris di ASEAN beberapa waktu lalu menegaskan mengenai posisi AS yang sangat serius di kawasan ini. Bahkan dalam sambutannya di Singapore, Wapres AS menuduh China telah memaksa dan mengintimidasi untuk mendukung klaim yang tak berdasar hukum di Laut China Selatan.
Lantas pernyataan Kamala Haris, sontak langsung mendapatkan respon keras dari Beijing melalui Jubir Menteri luar negerinya, menurutnya justru AS lah yang kerap menindas dan merasa paling benar dengan aturannya sendiri. Sehingga AS lah yang sebenarnya menjadi trouble maker dalam setiap dinamika global saat ini.
Lalu apa yang harus dilakukan negara negara di Asean? Hemat saya adalah perlu adanya sense of belonging dalam menghadapi masalah ini secara bersama . Karena bila sendirian menghadapi kekuatan besar sepertinya sangat sulit. Hal ini juga sejalan dengan visi ASEAN way, ketika masalah apapun di kawasan ini jangan sampai ada campur tangan pihak lain yang mencoba mengintervensi bahkan melakukan politik belah bambu agar negara negara di ASEAN tercerai berai.
Disinilah peran penting Indonesia sebagai negara yang dianggap paling netral karena tidak terlibat secara langsung diantara negara-negara yang bersengketa di LCS. Pemerintah Joko Widodo bisa menggunakan pendekatan Diplomasi Maritim melalui Bakamla RI untuk melakukan konsolidasi keamanan maritim antar negara-negara di Asia Tenggara.
Lalu kenapa harus Bakamla? Karena dalam situasi damai seperti ini, bila yang digerakan Angkatan Laut cenderung menimbulkan kecurigaan bagi negara lain. Disinyalir akan semakin memanaskan situasi bila seluruh angkatan laut di Asia Tenggara melakukan konsolidasi.
Jadi pendekatan yang pas adalah Coast Guard to Coast Guard bukan Navy to Navy. Pendekatan diplomasi ala lambung putih untuk menstabilkan keamanan maritim. Dan Bakamla RI secepatnya membentuk Komando Gabungan antar Coast Guard, dengan tugas utamanya adalah melakukan patroli keamanan di kawasan dan membawa visi perdamaian. Bila langkah ini berhasil, akan menunjukan kepada dunia bahwa ASEAN semakin dewasa dan solid tidak mudah patah dan goyah menghadapi dinamika global saat ini.
Konflik di LCS, Bakamla RI Harus Jadi Koordinator Keamanan Maritim di ASEAN
Kategori
-
Pengumuman CPNS Bakamla RI Tahun Anggaran 2024
22 August 2024
-
Bakamla RI Bina Personel Calon Perwira
07 June 2021
-
Pengumuman Seleksi Calon PPPK Formasi Nakes Badan Keamanan Laut RI
09 November 2022
-
Empat Jabatan Strategis Bakamla RI Diserahterimakan
06 May 2021
-
Amankan 2 Super Tanker Asing, Bakamla RI Dibantu Unsur Laut dan Udara TNI AL
26 January 2021
-
Coast Guard Indonesia, Singapura dan Malaysia Lakukan Pertemuan Tingkat Tinggi di Batam
11 August 2026
-
Bakamla RI Sambut Kedatangan Kapal Coast Guard Malaysia dan Singapura
11 August 2026
-
Bakamla RI Siap Gelar Tripartite Coast Guard Cooperation
11 August 2026
-
Bakamla RI Terima Kunjungan Delegasi NDC Sri Lanka
10 August 2026
-
Kepala Bakamla RI Sapa Masyarakat Lewat Kabar Siang tvOne
10 August 2026
ID
EN