Presiden RI
 
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
 
PENGUMUMAN
PENGUMUMAN JPT MADYA DEPUTI INHUKER 2019
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Indonesia akan Memiliki Sistem Pemantauan Maritim Baru
  enni  2019-07-24  826  Print

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tengah menggalakkan proyek Maritime Surveillance System (MSS). Meski saat ini MSS masih menghadapi berbagai kendala yang cukup fundamental.

"Tantangan pertama adalah wilayah Indonesia yang 2/3 nya lautan dan pesawat kita diminta untuk bisa survey ke seluruh lautan itu. Tantangan keduanya adalah sistem komunikasinya, karena di laut itu sering blank," kata Peneliti Utama Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Atik Bintoro usai konferensi pers Seminar Nasional Iptek Penerbangan dan Antariksa di Gedung Graha Widya Bhakti, Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (23/7). 

Atik menyebut MSS ini sendiri merupakan sistem pemantauan daerah selat dan laut yang cukup rawan dengan kejahatan kemaritiman seperti illegal fishing.

“Kalau di darat arus komunikasi itu bisa dioper dari satu stasiun ke stasiun yang lain, kalau di lautan akan sulit untuk mengoper satu pesawat ke pesawat yang lain, karena jangkauan sinyal ke pesawat itu 450 meter. Tipe pesawat yang digunakan sendiri untuk proyek ini adalah Unmanned Aerial Vehicle (UAV),” katanya.

Atik mengatakan saat ini jangkauan diameter yang bisa dicapai itu 200 km, sedangkan yang diinginkan adalah 300 km di laut. 

“Tapi kita akan tetap berusaha memenuhi permintaan dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan)," tambah Atik.

Dalam upaya memenuhi permintaan tersebut, Atik menyebutkan LAPAN saat ini sedang mengembangkan UAV yang lebih besar yaitu tipe LSU-05. 

Diharapkan UAV ini bisa terbang sesuai dengan kondisi perairan di Indonesia.

"Jika prototipe ini lulus uji, targetnya 2020 akan diterbangkan dari kapal patroli, nantinya pesawat ini bisa melacak nomor kapal illegal fishing dengan kameranya," katanya.

Atik mengatakan saat ini pertahanan negara bisa diperankan oleh banyak pihak, bukan hanya militer saja. 

“Pengembangan UAV ini bisa dilakukan ke ranah pertahanan tetapi LAPAN sendiri tidak akan bermain di sektor itu,” katanya.

 

Sumber :

gatra.com